Suatu Hari di Kala Langit Berwarna Jingga - ANCAPRA

 


"Tidak. Pergi sana!"

Selepas itu bocah yang membopong tumpukan kertas cepat-cepat menjejakkan kakinya ke seberang jalan, kemudian menghadap satu persatu pria yang berdiri di sana.

Dalam benak diri ini terus menerka, mengapa dirinya begitu tergopoh berpindah tempat? Apa setumpuk kertas yang ada dalam peluk menjadi alasan? Tapi mengapa sampai jingga berhasil mewarna langit, kertas itu belum juga habis tersebar? Apa karena sepanjang hari air tiada henti menetes dari langit? Tapi mengapa hanya para pria yang ia tawari? Apa anggapan wanita tak berpendidikan masih menyisa dalam benak masyarakat ini? Atau mung—

"Kau lihat bocah itu, Nyonya?" Suara berat itu menyela deret pertanyaan yang sedang kurangkai dalam benak, "apa yang sebenarnya ia harapkan? Menawarkan surat kabar? Siapa yang hendak membelinya? Apa ia tak melihat warna langit yang membentang di atas kepala?"

"Nona."

Hening. Suaranya tenggelam dalam gemuruh pejalan kaki.

Seketika hawa dingin membekuk, kemudian mendekap diri ini dengan rasa canggung. Di sekelilingku warna kuning mendominasi. Deret lampu jalan kompak memendar terang, kemudian memaksa genang air dan kaca-kaca bangunan guna memantul cahaya yang sama.

Berjarak sepuluh kaki, kepulan asap keluar dari bangunan besar. Di hadapanku asap itu berkimbang, membawa aroma roti hangat yang baru saja keluar dari pemanggang. Sejenak kelopak mata kukejap, menikmat setiap uap yang masuk ke dalam organ pernapasan.

Aku menyipit mata, kemudian memandang jauh ke ujung barat. Di sana kabut tebal telah menyelimut separuh kota. Sedangkan di sini, di tempat aku berdiri, jingga tak lagi murni mewarna langit. Gumpalan-gumpalan hitam telah menoda, menggentarkan nyali bocah kecil yang masih sibuk menawarkan tumpukan kertas.

Setengah menit kemudian diri ini menengok ke arahnya. Ujung-ujung bibirku seketika terentang begitu menangkap ekspresi binggung yang tersirat dalam kerut di atas dahi, "panggil aku nona. Aku masih bebas. Belum ada lelaki yang berani mengikatku."

Perlahan kerut itu hilang, bersama dengan angguk yang berulang.

"Apa yang sedang kau tunggu, Nona?"

"Entahlah. Sesuatu untuk dibaca, kawan yang tinggal di dekat sini, atau mungkin pria tampan yang akan membelikanku segelas anggur dan sepotong roti."

Pria itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

"Kalau engkau? Apa yang sedang kau tunggu, Tuan?"

"Wanita cantik yang mau kubelikan segelas anggur dan sepotong roti." Pria itu melepas topi fedora, kemudian memeluknya di depan jas hitam yang membungkus tubuh besar.

Aku mendengus kencang, "kau mencoba menggodaku, Tuan?"

"Kau yang lebih dulu menggodaku."

Selepas itu kembali hening. Obrolan kami tersela oleh derap langkah sepasang kuda yang menarik kereta kencana.

"Jadi ... Kau tak berasal dari sini?" Pria itu kembali membuka obrolan.

Aku tak langsung menjawab. Diri ini lebih dulu termenung, memandangi wajah tegas yang digaris kumis tebal, "Apa yang mendasarimu berpikir seperti itu?"

"Entahlah." Bahunya sejenak terangkat, "dari caramu berpakaian ... kau tak seperti gadis yang biasa berkeliaran di kota besar."

Aku terdiam.

Bola mata seketika kulempar ke bawah, ke arah air yang menggenang di tepi jalan. Sangat lama diri ini termangu, memandangi pantulan tubuh yang tercetak di atas permukaan.

"Nona?" Ia membuyarkan lamunan, "Ijinkan aku untuk membelikanmu segelas anggur dan sepotong roti."

"Aku mampu membelinya sendiri."

Selepas itu aku pergi, meninggalkannya seorang diri.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama