Jamuan Makan Malam - ANCAPRA

 


Empat orang yang mendengar dehaman itu seketika kompak menahan napasnya. Kedua tangan yang menggenggam alat makan saat itu juga diletakan di atas meja persegi yang mereka kelilingi.

"Selamat malam Tuan Orlando dan keluarga. Bagaimana kabar kalian? Mohon maaf di malam yang indah ini aku harus mengganggu waktu istirahat kalian."

Pria paruh baya yang duduk di ujung meja mencoba bangkit.

"Psstt." Suara desis itu terdengar bersamaan dengan pistol yang ditodong ke arah pria paruh baya, "kau mau kemana Tuan Orlando? Mohon jangan buat aku tak enak hati. Silakan duduk dan sambutlah kedatanganku ini."

"Mau apa kau ke mari?" Pria paruh baya membuka mulut.

Dengan tangan kanan yang masih mengacungkan pistol, tangan kirinya perlahan menarik salah satu kursi dan duduk di sisi lain meja, tepat di hadapan pria paruh baya, "kau pasti tahu apa tujuanku datang ke mari, Tuan."

Hening.

Tulang rahang pria paruh baya semakin tegas terlihat.

"Kenapa kalian terus memandangiku anak-anak? Cepat habiskan makanannya agar kalian dapat segera bermimpi indah malam ini," ucap penodong pistol seraya menghadap ke kiri, ke arah dua bocah laki-laki yang duduk berdampingan.

"Lanjutkan makan kalian, Nak." Pria paruh baya menatap tajam ke depan.

"Lalu bagaimana denganmu, Nyonya Orlando?"

"Jangan ganggu aku dan anak-anakku." Wanita paruh baya yang ada di sisi kanan meja menunduk, sebisa mungkin tak menampakan wajahnya.

Sejenak bibir penodong pistol menyungging, "aku tak akan mengganggumu, Nyonya. Aku yakin kau tahu itu. Tapi bagaimana caranya aku tak mengganggumu, bila aku saja tak bisa memandang wajah cantikmu? Kemarilah, perlihatkan senyuman indah yang sangat terkenal itu."

"Apa maumu? Tinggalkan dia sendiri!!" Pria paruh baya menaikkan nada bicaranya, seolah tak peduli dengan moncong pistol yang terarah padanya.

"Lebih baik kau diam dulu, Tuan. Aku tak sedang berbicara padamu. Lagi pula apa salahku? Aku hanya ingin menikmati wajah cantik yang dimiliki nyonya Orlando. Apakah itu salah?"

Sejenak kemudian wanita paruh baya mengangkat kepalanya.

"Kau benar-benar cantik, Nyonya. Tapi sepertinya ada yang salah dengan mata indahmu. Apakah itu karena air yang memenuhi kelopak matamu? Jika iya, kau tak perlu khawatir. Aku bisa menjamin malam ini matamu akan kembali menunjukan keindahannya, karena ada banyak hal tak mengenakan yang akan menimpa dirimu malam ini."

"CUKUP!!!" pria paruh baya menggebrak meja.

DOR!!!

Pistol yang sejak tadi teracung ke arah jam dua belas, kini bergerak beberapa derajat ke kiri, tepat mengarah ke pelipis salah satu bocah yang kini sedang menyemburkan cairan merah.

Di hadapannya, wanita paruh baya tak sanggup berteriak. Bola matanya terbelalak dengan helaan napas yang terisak.

"Aku sudah mengingatkanmu, Tuan. Sebaiknya lain kali kau mendengarkanku.

"Pria paruh baya tak memberi respon. Wajah keriputnya yang mulai memerah kini terus mengucurkan keringat. Wanita paruh baya juga tak merespon. Sejak tadi bola matanya terus terbelalak, memandangi salah satu anaknya yang menggeletakan kepala ke atas makanan yang tersaji di meja persegi. Tak jauh berbeda, seorang bocah yang masih menyisa di sisi kiri juga melakukan hal yang sama. Ia hanya terdiam dengan kelopak mata yang mengatup rapat, bahkan cairan merah yang menoda di sebagian wajahnya dibiarkan begitu saja.

"Kau sedang apa, Kawan kecil? Ayo segera habiskan makananmu."

Bocah itu tetap tak merespon.

"Ayolah, Kawan. Apa aku harus menyuapimu?"

Saat itu juga, salah satu tangan pria paruh baya bergerak turun ke kolong meja.

"Mau apa kau?" tanya penodong pistol, "kau tak akan memegang senjata di dekat keluargamu, kan?"

Pria paruh baya tak memperdulikan perkataan itu, dan tetap menyembunyikan salah satu tangannya di kolong meja.

"Lantas sedang apa tanganmu berada di bawah sana, Tuan Orlando?"

Diam. Pria paruh baya tetap tak memberi respon kecuali dengan bola mata yang menatap tajam.

Lenggang.

Selepas itu suara tawa menggema di ruangan besar ini, "ohh ... Aku tahu!" seru penodong pistol seraya menahan tawanya, "Apakah tanganmu sedang menekan tombol merah yang sengaja dirancang untuk keadaan seperti ini?"

Dahi pria paruh baya berkerut.

"Kau bodoh, Tuan Orlando. Benar-benar bodoh. Saking bodohnya hingga peluruku ingin sekali masuk ke dalam kepalamu." penodong pistol tersenyum lebar, "asal kau tahu, aku sudah mengawasi rumah ini selama tiga bulan. Bahkan tombol merah itu sudah tak berfungsi sejak satu minggu yang lalu. Apa kau tak menyadarinnya?"

Jakun pria paruh baya sesekali bergerak naik-turun.

"Hidupmu terlalu nyaman, Tuan."

"PENJAGA!!! KEPARAT!!! Di mana kalian?!!" Pria paruh baya terus berteriak.

"Sudah, sudah, Tuan. Simpan tenagamu untuk sesuatu yang lebih berguna. Semua anak buahmu telah menemui ajalnya."

"BANGSAT KAU!!! Aku tak percaya pada omong kosongmu!! Cepat keluar dari rumahku!!!"

penodong pistol merogoh saku celana dan melemparkan sesuatu ke atas meja, "itu milik orang kepercayaanmu, kan?"

Potongan jari manusia yang dilingkar oleh cincin emas tergeletak di atas meja.

Hening.

Sepi.

Sunyi.

Pria paruh baya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, "sebenarnya apa maumu?"

"Aku ingin membalas dendam keluarga."

Sepi. Tak ada satu orang pun yang merespon.

"5 Maret 1973. Pukul sebelas malam. Satu kilometer di utara pusat kota. Bar Fancy, milik keluarga Norton. Apa kau ingat kejadian itu, Tuan?"

Pria paruh baya menelan ludah.

DOR!!!

DOR!!!

DOR!!!


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama