Ternoda Cairan Merah - ANCAPRA

 


Di dalam mobil, suara yang mendayu itu terdengar menyayat hati. Tak ada lirik ataupun alunan alat musik lain, yang ada hanya suara gesekan dawai biola yang perpindahan nadanya tak bisa tertebak. Sekali waktu nadanya mengalun rendah hingga mampu mengaduk perasaan. Sekejap kemudian semuanya berubah, nada yang dimainkan kini begitu tinggi hingga berhasil menyentak hati yang sedang terhanyut dalam narasi melodi.

Bagai backsoud dalam film drama klasik yang sengaja disiapkan untuk bagian tertentu, alunan biola yang bertalun dalam mobil sedan tua ini mulai terdengar sejak aku memasuki jalan Portament, jalanan panjang yang menghubungkan dua kawasan elit kota ini.

Sepanjang suara itu terdengar, entah berapa kali sudah matanya melirik kaca spion yang menggantung tepat di atas dashboard mobil. Aku tahu, dalam benaknya pasti tersimpan satu-dua pertanyaan yang mengganjal hati.

"Di sini, Nona?" tanyanya begitu mobil ini menepi.

Aku mengangguk.

"Mau aku temani?"

Aku menggeleng seraya menurunkan satu kaki ke atas trotoar.

"Hati-hati, Nona. Jika kau bu—" Suaranya tak lagi terdengar. Perkataanya kalah cepat dari pintu mobil yang sudah kembali tertutup rapat.

Di depanku, sebuah bangunan sempit empat lantai tampak menjulang dibanding bangunan lain. Tumpukan sampah plastik yang menggunung di dekat pintu masuk kiranya mampu memaksa para tamu untuk berpikir dua kali sebelum berkunjung. Di bagian muka, tembok putih yang tak lagi bersih tampak sudah mengelupas di sana-sini. Tak hanya itu, pintu kayu yang sudah lapuk dimakan rayap telah menyisakan celah sebesar bola sepak di bagian bawahnya.

Lima kali sudah kepalan tanganku mengetuk pintu itu, dan lima kali pula aku harus menunggu tanpa adanya jawaban dari dalam. Suara bantingan yang memekakan telinga langsung terdengar begitu tangan kananku memutar gagang pintu dan mendorongnya sekuat tenaga. Lebih parah. Keadaan di dalam rumah ini bagai markas tawanan perang. Sejauh mata memandang, pecahan lantai marmer tampak berserakan di sana-sini. Jendela yang tertutup rapat oleh kayu-kayu panjang seakan sengaja digunakan untuk menghalau oksigen yang berniat masuk ke dalam rumah. Dari atap, tetesan air yang terus jatuh ke dalam genangan berhasil mencipta melodi konstan.

Begitu napas selesai dihela dan ludah selesai ditelan, kakiku perlahan mulai menapak, menaiki satu persatu anak tangga yang tak lagi kokoh berdiri. Waspada. Kaki, tangan, mata, dan otak terus bekerja sama guna menghindari lubang dan retakan yang berusaha menggagalkan niatku untuk menjejakan kaki di lantai atas.

Napas lega belum sempat kuhembus, tapi suara decit hewan pengerat sudah berulang kali terdengar. Seolah hewan-hewan itu menyambut kehadiranku di tingkat yang keadaannya tak jauh berbeda dari lantai dasar.

"Ting ... Ting ... Ting ... Ting ...." Suara dentingan itu menggema dari ruangan besar yang ada di ujung lorong. Tak menunggu lama, langkah tegap langsung kuarahkan ke sana. Melewati kerikil dan pecahan kaca yang tercecer di lantai.

"Aku tak menyangka, anak manja sepertimu ternyata berani berkunjung ke istana megahku ini." Suara serak itu terdengar dari balik sofa merah yang membelakangi pintu masuk.

"Aku tak menyangka, seorang pengecut sepertimu ternyata berani mengundangku ke rumah kumuh ini."

Ia mendengus, "kau benar-benar tahu cara menghormatiku."

Aku diam. Tanganku merogoh saku jaket.

"Lihatlah lukisan itu." Dari balik sofa, jari telunjuknya menuding ke depan, ke arah lukisan burung elang yang hinggap di punggung seekor kuda, "kau ingat siapa yang melukis itu?"

"Ya. Orang yang mati di tanganmu."

Ia terkekeh seraya menepuk-nepuk telapak tangan, "inilah. Ini alasan kenapa aku mengundangmu kesini. Aku ingin meluruskan semuanya. Meluruskan hal-hal yang seharusnya sudah kuluruskan sejak dulu."

"Kau tak perlu basa-basi. Cepat selesaikan dongengmu sebelum aku menelepon polisi."

"Polisi?" Sekali lagi ia terkekeh, "Kau lupa siapa yang membayar mereka?"

Aku terdiam.

"Baiklah, baiklah. Kau tak perlu bermasam muka, akan kuceritakan semua." Sejenak ia menghentikan ucapan, "asal kau tahu, bukan aku yang membunuh ibumu."

"Tapi kau yang membiarkannya mati tercabik-cabik oleh anjing sialan itu!!!" jawabku cepat, menahan air yang hampir meledak dari dalam kelopak mata.

"Kau salah paham, Nak. Ia sendiri yang memilih nasibnya. Aku sudah memberikan pilihan, tapi dirinya sendiri yang menyia-nyiakan."

"Ya, pilihan." Aku mengangguk, "pilihan untuk terus disiksa olehmu atau menjadi pemuas nafsu manusia keparat itu."

"Hei anakku," ia bangkit dari sofa, "sudah dua belas tahun kita tak bertemu, lebih baik ki—"

DOR!!!

Sebagian lukisan itu ternoda cairan merah.

"Aku tak sudi jadi anakmu."

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama