Ilalang Setinggi Pinggang - ANCAPRA

 


Lima orang bergaya perlente itu pergi, meninggalkan pria kurus seorang diri.

Di ujung meja panjang dirinya termenung, duduk di atas kursi yang terlapisi busa empuk. Sejenak kepalanya disandar ke belakang, berusaha membuat nyaman diri sendiri, walau ia tahu yang sedang dilakukannya sama sekali tak membantu. Kelopak mata yang terkatup sekejap kemudian kembali terbuka, seolah tak tahan berlama-lama terjebak dalam ruang kegelapan.

Sinar putih itu memaksa masuk, menembus dinding kaca, kemudian menjatuhkan cahaya persegi di atas lantai porselen.

Perlahan dirinya bangkit, berjalan lunglai ke arah lemari kecil yang menggantung di ujung ruangan. Sejenak kemudian dirinya telah berada di hadapan bulan, menenggak habis cairan kuning yang terjebak dalam botol kaca. Berjarak satu inchi, bayang tubuh kurusnya telah tercetak di atas lantai porselen.

KRINGG!!!

Hanya sekali berdering, ponsel itu langsung menempel pada telinganya.

"Kau sudah siap?" Suara serak terdengar dari dalam ponsel.

"Sudah."

"Sesuai dengan yang kuminta?"

"Ya."

"Tak kurang satu sen pun?"

Pria kurus itu diam sejenak, menelan ludah, kemudian menghela napasnya begitu dalam, "kekurangannya akan kau terima besok, setelah aku bisa menciumnya dengan tenang."

"Oke, tak ada masalah. Kau ingin menciumnya di bagian mana? Pipi? Atau dahi?"

Pria kurus terdiam, enggan menjawab pertanyaan itu.

"Hei!! Katakanlah, agar aku tahu kulit bagian mana yang harus kurobek dan kuberikan padamu."

Sekali lagi pria kurus itu terdiam, tetapi kini bibirnya bergetar hebat, menahan sesuatu yang hampir keluar dari dalam sana, "sebenarnya siapa dirimu?"

"Tak usah pikirkan diriku, Pak Tua, pikirkan saja nasib anakmu."

Diam. Dua orang itu sama sekali tak bersuara.

"Jika kau masih berminat, tepat tengah malam nanti kau bisa pergi ke tengah padang rumput yang berjarak 7 mil dari tempat kau berada sekarang."

"Di tengah padang rumput?"

"Tepat di samping sumur tua."

"Berikan alamat jelasnya, Bangsat!!"

"Seharusnya kau sudah tahu, Dave."

Mati. Suara serak itu menghilang, tergantikan oleh suara mengganggu yang berulang.

Debu-debu di depannya mengepul, tersorot oleh lampu mobil yang masih menyala terang. Biji matanya bergerak ke kanan-kiri, memandangi kegelapan yang membekuk sekitar. Di sampingnya sumur tua telah diselimut lumut, hampir tak dapat dikenali bentuknya.

Dalam ruang sempit mobil sedan, denting piano terus menggema, seolah berhasil mengiringi rasa tak nyaman yang bersarang dalam dada. Gigi-giginya terus menggelatuk, kemudian mengerikiti ujung bibir. Jemarinya mencengkeram, berusaha menggenggam angin yang diraih telapak tangan. Bola matanya tak henti beredar, terus menanti sesuatu yang tak pasti.

Jarum-jarum yang menggaris pada pergelangan tangan tak lagi kompak menunjuk angka dua belas. Namun telah bergerak lebih dari satu kali putaran.

KRINGG!!

"Kau dimana, Bangsat!! Aku telah menunggumu sejak tadi." Pria kurus itu mencerca.

"Parkirkan mobilmu di sana, kemudian berjalan 1 mil ke arah barat daya. Temui aku di balik bangunan tua bertingkat."

Mati. Suara serak itu kembali menghilang.

Diam. Pria kurus itu tak langsung bergerak, melainkan lebih dulu melempar pandangan kosong ke depan. Tak lama, hanya satu-dua kali hembusan napas. Namun setelah itu wajah pucatnya semakin dipenuhi oleh titik-titik air.

Sejenak tangannya memegang paha, memastikan sesuatu yang dibawanya masih berada dalam kantung celana. Tak lama setelah itu tangan kanannya bergerak, meraih koper besar yang sejak tadi terduduk di sampingnya.

BREKK!!!

Pintu mobilnya dibanting begitu keras.

Bermodal cahaya bulan, kaki-kaki panjangnya bergerak pelan, menerjang ilalang setinggi pinggang. Kancing kemeja lusuh itu terus bergerak, entah karena ditiup angin malam atau degup dalam dadanya yang terlampau kencang. Berkali-kali mulutnya menyeringai, menahan rasa sakit pada betis yang terus didera ilalang kering.

Di depan sana bangunan tua berdiri, menjadi pembeda di antara padang rumput yang tak bertuan. Berjarak 30 kaki di balik bangunan tua, sependar cahaya bohlam menyorot pria bermata sipit yang telah mematung, menunggu kedatangan pria berbadan kurus itu.

"Sejak awal aku sudah tahu, kau pelakunya."

"Selamat datang, Dave. Bagaimana perjalananmu? Apakah lancar? Atau kau menemui kendala?" Pria bermata sipit itu tersenyum begitu lebar, hingga samar-samar menampakan gigi putihnya.

"Tidak usah banyak omong, Bangsat!! Kau ingin uang? Kubawakan uang!! Sekarang di mana anakku?"

"Dave ... Dave ... Aku tak bisa kau tipu. Tunjukan dulu isi koper itu. Jangan kira aku tak tahu isi kepala busukmu."

Pria kurus tak menjawab. Dengan cepat jari-jari yang diselimuti kulit tipis itu membuka kunci koper, "kau puas? Sesuai yang kau minta." Beberapa detik kemudian koper itu kembali menutup, "sekarang di mana anakku?"

Senyum pria bermata sipit semakin lebar, "keluar!!"

Dari balik kegelapan, seorang bocah kecil berjalan pelan, bergerak mendekati pria bermata sipit, "kau yang akan membuka penutup wajah ini, atau aku saja?"

"Tidak usah banyak omong. Cepat kembalikan anakku."

"Bersamaan dengan koper itu."

Pria kurus mengangguk, kemudian mengulurkan koper itu. Tangan pria bermata sipit meraih koper, kemudian tangan lainnya mendorong bocah itu untuk mendekat ke ayahnya.

Dengan cepat pria kurus mendekap, memeluk bocah kecil yang seluruh wajahnya masih tertutup kain hitam. Berjarak beberapa kaki, pria bermata sipit sudah membalik badan, memandangi sesuatu yang ada di dalam koper itu.

"Balik badan dan jatuhkan koper itu, Bangsat!!" Pria berbadan kurus mengacungkan pistol.

Perlahan pria bermata sipit membalik badan.

"Jatuhkan koper itu dan angkat tanganmu."

Jakun pria bermata sipit bergerak naik-turun.

"JATUHKAN, BANGSAT!!!"

Tawa pria bermata sipit tertahan dalam tengkak, kemudian terealisasi dalam bentuk garisan yang melengkung di atas bibir, "kau tak ingin memeriksa sesuatu yang ada di balik penutup wajah itu, Dave?"

Bibir pria kurus itu kembali bergetar hebat.

Dengan cepat ia menunduk, kemudian membuka kain yang menutupi wajah bocah itu.

Hening cukup lama, setelah itu suara teriakan terdengar begitu keras, "BANGSAT!!!"

Teriakan itu berhenti, bersamaan dengan sebuah pistol yang ditodong ke arah pria berbadan kurus, "Aku tak bisa kau tipu, Dave. Jangan kira aku tak tahu isi kepala busukmu itu."

"Di mana anakku, Bangsat?!!"

"Di saat seperti ini kau masih sempat mengumpat diriku?" Pria bermata sipit mendengus, "kau benar-benar tak memiliki sopan santun. Masih sama seperti dulu, saat kau mencampakanku dari perusahaan kotormu."

"Jika kau ingin membunuhku, bunuhlah aku. Tapi jangan pernah sentuh anakku."

Pria bermata sipit mendecak lidah, "terlambat."

"Apa maksudmu, Bangsat?!!"

"Lihatlah ke belakang, ke lantai dua bangunan itu. Tebak, siapa yang sedang bergelantung di atas sana."

Pria bertubuh kurus membalik badan, "BANG—"

"DOR ... DOR ... DOR ... DOR ...."

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama