Rasa yang Masih Menyisa - ANCAPRA

 


Cahaya jingga korek api memendar wajah kala lampu pijar yang melekat pada atap tak sanggup melakukannya.

Dadaku mengembung, menampung asap yang bersembunyi di dalam cerutu. Lama aku tak membuangnya. Terus menahannya di dalam sana dan mencarikan tempat khusus untuknya. Namun sayang, rasa sesak lebih dulu mencekak, kemudian menyeretnya keluar melalui rongga mulut.

Dalam apitan jari tengah dan telunjuk, cerutu yang ukurannya sebesar batang kayu menjatuhkan abu tepat di sampingku, di atas anak tangga yang terbuat dari papan kayu.

Selepas itu aku mendorong tubuh ke belakang, menumpukan kedua siku ke atas anak tangga yang berada satu tingkat di atasku. Kala cerutu masih berada dalam apitan jari, kelopak mata semakin terasa berat mengejap, seolah sengaja memaksa diri untuk terjebak dalam eloknya dunia mimpi. Namun tak lama, kelopak mata seketika lebar terbuka, begitu alas sepatu menderap di atas papan kayu.

"Hallo." Di sampingku, sepasang kaki jenjang menuruni satu persatu anak tangga.

Sejenak aku diam, mengikuti gerakan kaki itu. Berjarak beberapa langkah, selepas ia berhenti dan melempar pandang ke arahku, segaris senyum kuukir di atas bibir, berusaha menjadi insan yang ramah dihadapnya.

Dari sudut pandangku, rambut hitamnya terurai panjang, menyembunyikan pinggang langsingnya yang terbungkus kemeja putih. Di balik sana, dengan keranjang besar yang masih tenggelam dalam peluk, tangan kanannya mengulur, membuka penutup sebuah kotak persegi raksasa yang mematung di hadapannya.

"Sebelah," ucapku seraya mengusir kepulan asap yang bersembunyi di dalam rongga mulut.

Leher putihnya digerak ke samping, menyibak paksa rambut panjang yang menyembunyikan paras cantik itu. Kedua biji matanya digulir ke sudut kanan, hingga bola mata yang membulat sempurna itu langsung mengarah padaku.

"Ya?" Dengan bulatan mata yang semakin lebar terlihat, garisan kerutnya melintang di atas dahi.

"Yang itu rusak. Pakai yang di sebelahnya aja."

"Ohh ...." Seketika anggukan kepalanya mengantarkan leher putih itu untuk kembali ke tempat semula.

Berselang beberapa detik, ketika kesunyian tak henti membungkam diri, sebagian isi keranjang yang ada dalam peluknya telah hilang, masuk ke dalam perut kotak persegi raksasa yang begitu lebar terbuka.

Entah apa yang memicu, namun fokus diri ini seketika berubah. Lempengan persegi yang berada satu jengkal di bawah atap kini seakan menjadi primadona. Bukan hanya lempengan itu mampu menampakkan rembulan yang kesepian di atas sana. Namun lebih dari itu, ketika lempengan tipis mampu menjadi tempat bersemayam ulat bulu yang meringkuk begitu kecil.

Entah memang disengaja, atau hanya kebetulan semata, namun suara deru kotak persegi itu memaksaku untuk kembali fokus ke arahnya.

Dalam apitan jemari, abu yang berada di ujung cerutu semakin panjang menggumpal, seakan membentuk barisan yang menunggu giliran untuk terjatuh ke atas papan.

Simpulan senyumku kembali terbentang, menyambut tubuh jenjang yang membalikan badan, "silakan." Tangan kananku menyapu, membersihkan abu cerutu yang tercecer di samping.

Di hadapan, senyumnya kembali terajut, dilanjut dengan langkahan kaki yang mendekat ke arahku.

Hening.

Suara deru itu telah berhenti, namun suara kami belum juga terbetik.

Tangan kanannya tiba-tiba menuding salah satu kotak persegi, "kamu ... Enggak ...." Suara lirih itu akhirnya menghentikan derita kesunyian yang kurasa.

Aku menggeleng.

"Terus?" Senyumnya lebar terukir, menampakan gigi putih yang berjejer rapi, "kenapa duduk di sini?"

Aku tak langsung menjawab. Kedua paru-paru yang ada dalam dada lebih dulu mengembung, terisi oleh asap cerutu yang kuhisap begitu dalam.

"Udah kebiasaan."

"Aneh banget." Tubuhnya berguncang, merelisasikan tawa yang telah tampak di atas bibir.

Aku terdiam. Membiarkan tawanya berdansa di atas murungku.

"Dari kapan kamu jadi aneh kayak gini? Kayaknya dulu enggak, deh." Tawanya kini semakin mendominasi, bahkan dengan bola mata yang langsung dituju ke arahku.

Aku diam.

Dengan bara yang masih menyala, cerutu itu terjatuh ke atas papan, kemudian padam akibat alas kaki yang menumpu tubuh gempal ini, "itu mesin cucinya udah mati."

Kemudian aku pergi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama