Kekuasaan di Atas Kekuasaan - ANCAPRA

 


"Silakan." Tangan putih itu terulur, meminta pria yang baru masuk ruangan untuk mengisi kursi kosong.

Diam. Pria bermata sipit yang ada di ujung ruangan tak menjawab, bahkan tubuhnya tak digerak sedikit pun.

"Tuan Cheng? Silakan bergabung dengan saya."

"Hah ...." Pria bermata sipit tertegun. Dengan koper kecil yang ada di pelukan, ia melangkah pelan mendekati sepasang kursi dan meja kayu yang ada di tengah ruangan.

"Bagaimana kabar anda, Tuan Cheng?" ucap pria berkulit putih seraya mengulurkan tangan.

Dengan cepat uluran tangan itu disambut oleh pria bermata sipit, "b-baik, Tuan Rey."

Beberapa kali kepala pria berkulit putih mengangguk, "silakan, silakan."

Di bawah sorot lampu gantung yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan besar yang diwarna merah tua ini, sebuah meja kayu menjadi pemisah di antara dua orang pria bergaya perlente.

"Kau ingin minum terlebih dahulu atau langsung saja, Tuan Cheng?"

"L-langsung pada intinya saja, Tuan Rey," jawab pria bermata sipit tanpa memandang wajah pria yang duduk di hadapannya.

"Baik, baik." Sekali lagi pria berkulit putih menganggukan kepala, tetapi kali ini tangan kanannya meraih sebuah poci yang ada di sudut meja dan menuangkan isinya ke dalam cangkir kecil, "kalau begitu izinkan aku untuk menikmati minuman khas dari negeri yang indah ini."

Jakun pria bermata sipit bergerak naik-turun.

"Apakah kau mengizinkanku, Tuan Cheng?"

"T-tentu. Tentu saja, Tuan Rey. Silakan nikmati minumanmu."

"Apa kau benar-benar tak ingin menikmati minuman ini bersamaku?"

"T-tidak usah, Tuan. Terima kasih."

"Baiklah kalau begitu," ucap pria berkulit putih seraya menghela napasnya dalam-dalam di depan mulut cangkir, "katakan padaku, Tuan Cheng, terbuat dari apa minuman ini? Mengapa aromanya wangi sekali?"

"Itu teh krisan, Tuan Rey. Terbuat dari bunga krisan pilihan yang kami petik langsung dari perkebunan ternama di negeri ini."

Hening sejenak. Perkataan pria bermata sipit menghilang begitu saja tanpa ada yang merespon.

Tak berselang lama, kecapan bibir dan hembusan napas pria berkulit putih memecah keheningan, "nikmat. Benar-benar nikmat. Persis seperti aromanya."

Pria bermata sipit menunduk.

"Baiklah, Tuan Cheng, cukup untuk basa-basinya. Mari kita melakukan pekerjaan orang dewasa."

Pria bermata sipit masih menunduk.

"Bisa kita mulai, Tuan Cheng?" Badan pria berkulit putih sedikit merunduk, mencoba memandang wajah pria yang ada di hadapannya.

"T-tentu. Tentu saja, Tuan Rey."

Pria berkulit putih berdeham seraya menggerak-gerakan jari telunjuk di atas koper kecilnya. Tak berselang lama sampai akhirnya koper itu terbuka, "beberapa minggu lalu, aku— ehm ... Lebih tepatnya negaraku, menerima surat ini."

Tangan pria bermata sipit yang penuh dengan kerut menjulur di atas meja kayu, meraih selembar kertas yang diulur oleh tangan pria berkulit putih yang menyembulkan urat-urat kekar.

Hening sejenak. Bola mata pria sipit telah dikawal lensa cembung.

"Kau pasti tahu harus melakukan apa, kan?"

Pria bermata sipit menghela napasnya, kemudian dihembus kembali dengan begitu keras, "begini, Tuan Re—"

"Aku tak suka kata 'begini' dan kalimat lanjutan yang akan keluar dari mulutmu," sela pria berkulit putih dengan cepat.

Diam.

Hening.

Sepi.

Mereka berdua saling menatap dengan kelopak mata yang beberapa kali berkedip.

Pria bermata sipit melepas kaca matanya, "atas nama pemerintahan negaraku, maaf aku ta—"

"Atas nama pemerintahan negaraku, aku ingin kau melakukannya!!!" Pria berkulit putih menggebrak meja, "menurutmu apa yang bisa dilakukan pemerintahan negaramu tanpa negaraku, hah? Kami yang membangun pemerintahan negaramu!! Kami yang membuat peraturan di negaramu!! Kami yang memilih siapa yang pantas memimpin negaramu!! Kami memilih kaummu untuk memimpin, dan itu berarti kaummu adalah kaki tangan kami, kaummu harus melakukan apa saja yang dikatakan negaraku. Bukankah begitu seharusnya, Tuan Cheng?"

Jakun pria bermata sipit kembali bergerak naik-turun.

"Tentu pemerintahan negaramu tak ingin ada kericuhan ataupun kudeta, kan?"

Pria bermata sipit tak menjawab.

"Begini, Tuan Cheng. Kau pasti tahu ini, tapi aku ingin mengingatkannya kembali. Di depan sana, orang-orang yang berjaga di luar ruangan ini memang kaummu, tapi mereka berpihak padaku, pada negaraku. Jadi, akan sangat mudah bagiku jika ingin melakukan sesuatu yang bisa mengancam kekuasaan kaummu di negara ini, tapi aku tidak seperti itu. Aku masih ingin berbicara lebih dulu padamu. Karena apa? Karena aku menghormatimu, Tuan Cheng."

Pria bermata sipit tetap tak menjawab.

"Kau bisa menyimpan surat itu, Tuan Cheng." Pria berkulit putih bangkit dari duduknya, "terima kasih atas bantuannya, dan terima kasih pula atas sambutan di negaramu yang begitu indah ini. Maaf aku tak bisa berlama-lama."

Pria berkulit putih melangkah menuju pintu keluar.

Tepat ketika pintu keluar setengah terbuka, pria berkulit putih menghentikan langkahnya, "dan satu lagi ...."

Pria bermata sipit membalik badan.

"Kang Lian dan Han Lian. Jalan Gengxin nomor 15. Aku mengawasi keluargamu, Tuan Cheng."

Pria berkulit putih tersenyum lebar.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama