Jerami yang Bertumpuk di Sudut Ruangan - ANCAPRA

 


TOK ... TOK ... TOK ...

"Siapa di sana?"

"Aku." Jawaban itu keluar bersama asap rokok yang kemudian hilang terbentur permukaan pintu.

Hening. Pegetuk dan pemilik pintu kompak mengunci mulutnya.

Sejenak kemudian cahaya matahari menerobos masuk, membentuk sudut lancip di dalam bangunan yang terpendar cahaya remang lampu gantung. Bersamaan dengan itu, bayangan langkah yang semakin membesar tercipta di atas lantai kayu.

"Kau tidak boleh merokok di sini."

"Kau tak mau mempersilakanku duduk terlebih dahulu?"

"Tidak." Pemilik rumah menatap tajam ke arah tamunya, "mau apa kau kemari?"

"Kau sudah lupa cara menghargai orang lain? Atau lingkungan baru ini yang telah mengubahmu menjadi seekor ayam kecil tak bermoral?" Ucap tamu seraya duduk di atas kursi kayu.

"Mau apa kau kemari?" Berjarak satu meter, pemilik rumah telah duduk di atas tumpukan jerami.

Tamu itu mendengus seraya menjatuhkan abu rokok ke atas lantai kayu, "kenapa kau tergesa-gesa? Apa kau takut jika istrimu pulang dan melihatku sedang berbincang denganmu?"

Pemilik rumah tak menjawab.

Sekali lagi tamu itu mendengus, tapi kali ini diiringi dengan segaris senyuman yang mengembang di wajah, "kau benar-benar telah kehilangan sopan santun, Jo. Bahkan aku, kakakmu sendiri yang telah jauh-jauh datang ke sini, ke desa sialan yang setengah penduduknya tak bisa membedakan antara angka enam dan angka sembilan ini tak kau beri kesempatan untuk melegakan dahaga dalam tenggorokan."

"Kau mau minum apa?"

"Margarita."

"Tidak ada. Aku tak meminum itu lagi," ucap pemilik rumah seraya menuangkan teh hijau ke dalam gelas kosong yang ada di atas meja.

"Ada apa denganmu, Jo?" tanya tamu seraya melepas topi fedora dan meletakannya di atas meja, "pergi dengan gadis aneh, bersembunyi di desa terpencil, pindah ke dalam rumah kayu, menyimpan tumpukan jerami di sudut ruangan, meminum teh hijau, lalu apa lagi, Jo? Ke mana perginya Joseph yang dulu? Joseph yang ditakuti oleh seluruh penduduk kota. Joseph yang menguasai semua pub dan kasino di penjuru negeri ini. Joseph yang didamba-dambakan oleh wanita cantik. Ke mana? Ke mana perginya orang itu? Apa bisikan gadis aneh telah merubahmu?"

"Sebenarnya apa maumu?"

"Aku ingin kau naik ke dalam mobilku dan kita kembali ke kota. Sekarang juga!!"

"Tidak. Tidak bisa." Pemilik rumah menggelengkan kepala.

"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Apa gadis aneh itu yang menghalangi? Apa cerita karangannya berhasil memengaruhimu?"

"Jaga omonganmu!! Sesama wanita mengapa kau tak berada di pihak yang sama dengannya?"

"Kau tak mendengar apa yang digembar-gemborkannya?! Revolusi-revolusi omong kosong!!! Bisnis ini yang menghasilkan uang. Bisnis ini yang menghidupi kita. Ayo, kita pulang. Orang-orang di kota membutuhkan kita, dan kita membutuhkan mereka. Tinggalkan gadis aneh itu!!"

"Tidak. Aku tak mau terjerumus ke dalam bisnis haram itu lagi. Aku sudah punya masa depan. Memang tak semenjanjikan hidup di kota, tapi aku sudah punya pekerjaan di sini. Aku sudah punya rencana untuk beberapa tahun ke depan. Aku akan hidup bahagia dengan orang yang aku cintai, dengan gadis yang kau sebut aneh itu. Sebentar lagi kami akan memiliki momongan. Aku akan menjadi bapak. Kau akan menjadi bibi. Aku mohon, jangan ganggu kami lagi. Biarkan kami hidup bahagia. Aku menyayanginya. Aku cinta padanya. Aku ta—"

"Asal kau tahu, keluarganya yang telah membunuh ayah kita."


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama