Di Bawah Payung Hukum - ANCAPRA

 



" Selamat pagi, Chuck. Gimana kabarmu? Kau nampak lebih gendut dari sapi yang terjangkit tetanus," ucapnya.

" Tutup mulutmu. Lekas jalani tugasmu serta biarkan saya kembali."

Di hadapanku, berjarak satu lempengan besi yang disulap jadi daun meja, seseorang laki- laki berlencana sudah duduk di atas sofa besi yang terletak pas di dasar lampu gantung.

" Baiklah bila itu maumu." Salah satu ujung bibirnya menukik, bertepatan dengan kedua bahu yang kompak terangkat," apa kau keberatan apabila saya merekam seluruh obrolan kita?"

" Jalani apa yang wajib kau jalani."

Laki- laki itu mengangguk.

CLEKK!!

Telunjuk yang meruncing itu menghujam ke dasar, ke arah tombol merah yang terbubuh di atas barang persegi.

" Charles McKinton. Apakah benar itu namamu?"

" Ya."

" Dapat kau jelaskan, di mana keberadaanmu pada hari kamis malam, bertepatan pada 18 November?"

" Saya ada di rumah."

" Di rumah." Ujung pena yang digenggam laki- laki berlencana itu terus bergerak, menorehkan tinta merah pada lembaran kertas kecil." Bersama siapa kau terletak di situ, Tuan McKinton?"

" Derby. Anjing kesayanganku."

Mendadak penanya menyudahi bergerak. Pemikiran yang semenjak tadi tertuju pada lembaran kertas saat ini ditunjukan padaku. Kelopak matanya sedikit menyipit, tertutup oleh kulit wajah yang terdorong ke atas akibat ujung- ujung bibir yang melemas begitu lebar," cuma kau seseorang diri. Jadi... Tidak terdapat yang dapat memantapkan alibimu. Bukankah begitu, Tuan McKinton."

" Kau dapat bertanya pada anjingku bila ingin."

Mendadak seluruhnya kembali wajar. Kelopak matanya saat ini kembali membulat sempurna. Begitu pula dengan kulit wajah serta ujung- ujung bibir yang kembali direkat oleh otot kaku," kau tidak pantas bercanda denganku, kriminal."

CLEKK!!

Suara itu kembali menjajaki gerak telunjuk yang menghunjam ke dasar.

" Kita dapat rehat terlebih dulu bila kau ingin, Chuck." Badan tegapnya membungkuk, tertumpu pada meja besi.

" Tidak. Tidak butuh. Kilat tekan tombol sialan itu serta lanjutkan pertanyaanmu."

" Kau tidak pantas memerintahku, Chuck." Kedua matanya memandang tajam, dengan senyum lebar yang menyembunyikan barisan giginya," dikala ini saya lagi mau berbincang dengan kawan lama. Kawan lama yang telah begitu lama tidak berjumpa denganku."

KREKK!!

Kaki- kaki sofa bergerak mundur, menggesek lantai beton sampai suara deritnya menggema dalam ruangan berdimensi 6×6 m ini. Pas di depan wajah, sejoli alas sepatu sudah menyilang, terjulur panjang di atas meja besi ini. Dikala itu pula, barang persegi terbanting ke lantai sampai komponen- komponen penyusunnya tercecer keluar," jadi gimana kabarmu, Chuck?"

Dadaku terbusung, diisi oleh oksigen yang tertahan di dalamnya. Tenggorokanku senantiasa kering walaupun berulang kali dialir oleh air yang penuhi rongga mulut. Bola mataku terus berbalik, berlarian ke situ ke ayo mengelilingi ruangan persegi yang dipagari tembok beton.

" Kau tidak jauh berbeda dari terakhir kali kita berjumpa, Chuck. Kau masih senantiasa gagah. Cuma saja saat ini tubuhmu lebih besar. Ya, saya dapat paham, bisa jadi hidup di luar situ lebih membuat kamu senang."

" Apa kau telah berakhir dengan pertanyaanmu? Bila telah saya mau lekas kembali," ucapku seraya menumpukan kedua tangan di atas dinginnya meja besi.

" Mengapa kau terburu- buru, Chuck? Apa kau tidak bahagia berjumpa denganku?"

Saya tidak menanggapi. Tubuhku saat ini sudah bangkit dari sofa serta melangkah mengarah pintu baja. Dalam genggaman, gagang yang melekat pada pintu itu tidak bergerak walaupun kutarik serta kudorong sekuat tenaga.

" Dapat kau bukakan pintunya?" Saya membalik tubuh, memandang ke arahnya.

" Pintu itu dikunci dari luar. Bila kau ingin, memohon saja pada orang yang terdapat di luar situ. Itu juga jika mereka bisa mendengar suaramu."

" Kau tidak memiliki hak menahanku. Saya mau berjumpa dengan pengacaraku."

Suara dengusan seketika keluar dari balik bibir yang menyungging itu.

" Apa? Apa maksudmu? Mengapa kau tertawa? Apa yang salah denganku?"

" Tidak terdapat yang salah, Chuck. Tidak terdapat yang butuh dikhawatirkan. Cuma saja saya tidak habis pikir, kenapa orang sepertimu tidak membuktikan rasa hormat pada petugas. Saya apalagi belum memintamu berangkat, tetapi mengapa kau telah meninggalkan sofa besi yang aman itu? Silakan duduk lagi, kawan. Bila kau tidak keberatan, saya hendak membagikan satu- dua persoalan bonus."

Saya menelan ludah, serta sesaat setelah itu saya telah kembali terduduk di atas sofa besi itu," saya mau berjumpa dengan pengacaraku."

Dia tersenyum," pengacara? Apa maksudmu perempuan itu? Perempuan yang dikala itu sukses mengeluarkanmu dari mari?"

" Ya. Serta saat ini dia hendak melaksanakan perihal yang sama."

Kepala laki- laki itu terus dianggukan," ya. Perempuan itu memanglah pintar. Dia sukses mengeluarkanmu dikala saya dibebas tugaskan. Betul- betul sesuatu kebetulan."

Kedua mataku menyipit.

" Gimana kabarnya? Ia terdapat di mana dikala malam peristiwa?"

" Itu bukan urusanmu." 

" Dari cerita yang kudengar, ikatan kamu terus menjadi tidak harmonis sehabis kematian anak kesatu kamu setahun yang lalu. Apakah itu benar?"

" Kau tidak berhak menanyakan kehidupan pribadiku."

" Kau ketahui bila saya serta ia dahulu sempat mempunyai ikatan, kan, Chuck? Legendaris. Sangat legendaris. David serta Kim. sheriff serta pengacara kebanggaan kota yang jadi sejoli pacar." Kakinya lama- lama diturunkan dari atas meja" legenda itu bertahan lumayan lama, saat sebelum kesimpulannya dia berangkat, memilah seseorang kriminal serta membiarkan legenda itu jadi suatu kenangan."

" Apa maksudmu menggambarkan cerita ini padaku? Saya mau berjumpa dengan pengacaraku."

" Tidak. Kau tidak dapat berjumpa dengannya."

" Apa maksudmu?!! Itu hakku buat berjumpa dengan pengacara."

Sangat kilat buat badannya bergerak maju serta membagikan tatapan tajam di depan wajahku," kriminal sepertimu tidak pantas memperoleh hak."

Mendengar kalimat itu, cairan kental mendadak keluar dari mulutku serta mendarat pas di atas mukanya. Tidak menunggu lama, kepalan tangannya mendadak membalas itu seluruh. Tidak cuma sekali, kepalan tangan itu terus menghujani pipi sampai saya terhempas ke lantai.

Pandanganku kabur. Saya tidak dapat memandang dengan jelas apa yang terdapat di hadapanku kecuali badan besar yang berjalan mendekat. Tidak menunggu lama saat sebelum kesimpulannya badan besar itu menindih serta kembali menghadiahkan kepalan tangannya padaku. Masih sama, tidak cuma sekali, namun berulang kali, sampai saya tidak dapat lagi merasakan organ- organ yang menyusun wajahku.

Tangan besarnya saat ini menarik, menyeret badan yang tidak lagi berdaya ini ke ujung ruangan serta menyandarkannya pada bilik beton," apa kau masih mau bermain- main denganku, Chuck?"

" Kau melanggar hukum, keparat!! Saya hendak menuntutmu."

Dikala itu pula suara tawa yang memekakan kuping memantul pada dinding- dinding beton serta menggema dalam ruangan ini," apa saya tidak salah mendengar? Kau, Charles McKinton, seseorang kriminal kelas teri mau menuntutku, David Bowman, seseorang sheriff kebanggaan kota ini? Kau betul- betul lucu, kawan."

" Amati saja nanti."

" Ya, kita amati saja nanti. Kau pikir saya tidak dapat menghukummu atas peristiwa kamis malam yang terjalin di dekat rumahmu itu?"

" Saya tidak bersalah, bangsat!!! Kau yang melaksanakan itu seluruh!! Kau yang menyuruh orang- orang itu!! Kau mau menjebakku!! Kau mau memasukanku ke dalam penjara lagi!! Kau yang wajib bertanggung jawab atas itu seluruh!!!"

" Bila memanglah semacam itu, sayangnya kau tidak mempunyai lumayan fakta, Chuck."

" Kau pula tidak memiliki fakta buat memenjarakanku, bangsat!!!"

Sekali lagi suara tawa itu menggema, cuma saja saat ini diiringi oleh tangan besar yang mencengkeram leher," asal kau ketahui, saya tidak butuh fakta buat memenjarakanmu. Saya merupakan David Bowman. Seluruh orang yang terdapat di majelis hukum hormat padaku. Saya yang membukakan pintu buat mereka sampai dapat duduk manis di balik meja hakim. Cuma butuh satu kalimat yang keluar dari mulutku buat membuat mereka menghukummu dengan berat. Jadi kau tidak harus bersedih."

" Kamu manusia- manusia keparat!! Mudah- mudahan kamu membusuk di neraka!! Kamu melanggar hukum, bangsat!!!"

" Hukum? Apa yang telah dikatakan perempuan itu padamu, Chuck? Apa kau kurang ingat lagi terletak di mana? Saat ini kita terdapat di Bananes, suatu wilayah yang ukurannya tidak lebih besar dari ciri koma. Bila kau ucapkan nama wilayah ini di bunda kota, lalu orang- orang di situ hendak mengira kau mengatakan santapan berbahan dasar pisang yang dipadukan dengan keju basi." Tangan kanannya menarik rambut belakangku," hendak kuperjelas bila kau masih belum mengerti pula. Tidak terdapat hukum yang berlaku di wilayah sialan ini."

Tangan besar itu saat ini kembali menyeret, serta mengangkut badan ini ke atas sofa besi.

" Waktunya buat kembali, Chuck. Kembali ke tempat di mana semestinya kau kembali. Tempat yang telah ditakdirkan buat orang- orang sepertimu. Selamat tinggal, Chuck." Bertepatan dengan itu, tangan besarnya mendesak kepalaku sampai menghantam meja besi.

Saat ini saya tidak dapat lagi merasakan betapa dinginnya meja besi ini, yang dapat kurasakan cumalah cairan hangat yang mengalir di dekat wajah. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama