Di Balik Pintu Berlapis Baja - ANCAPRA

 


Tangan besar itu mendorongku hingga tersungkur ke dalam ruangan yang dikelilingi oleh tembok beton. Satu jengkal di luar pintu berlapis baja, mata merahnya terus menatap tajam ke arahku, seolah diri ini seekor mangsa yang telah lama diincarnya.

Satu langkah dirinya mendekat.

"Danggg!!!" Dari dalam kurungan, tangan besar itu menutup pintu.

Tubuh ini perlahan bangkit, bersamaan dengan tangan yang terus meraba ke udara, guna mencari alat tumpu untuk menggantikan kedua kaki yang tak bisa lagi kurasa.

"Duduk!!"

Aku tak sudi mematuhi perintahnya. Kaki pincang ini justru melangkah mendekat, menghadap wajah dingin yang menampakkan kengerian. Satu langkahan penuh belum selesai kulakukan, tapi tubuh ini sudah kembali tersungkur di atas lantai kusam yang tersorot oleh sinar mentari yang menyelinap masuk melalui jeruji kecil.

"Di mana kau menyembunyikannya?" Suara berat itu menggema dalam ruangan seukuran kandang babi.

Aku tersenyum kecil, "katakanlah, di mana aku bisa menemukan wanita cantik di kota yang kumuh ini?"

Urat-urat yang mengakar dalam mata merah itu seolah mampu membuat setiap orang yang berani menatapnya kehilangan nyali. Badan besar itu perlahan menunduk hingga wajah dinginnya berada satu jengkal di hadapanku, "di mana kau menyembunyikan barang selundupan itu?!!"

"Cardobar? Apakah wanita cantik itu kau temukan di sana? Di tempat prostitusi ilegal yang berhasil mengharumkan nama kota kumuh ini di kancah dunia hitam."

Secepat kilat tangan besar itu mencekik leherku, "aku bersumpah akan membunuhmu!!!"

Suara tawaku memecah suasana mencekam yang berusaha ia cipta, "jika kau mau membunuhku, bunuh lah aku sekarang juga."

Ia terdiam. Tangannya kini tak lagi bersarang di leherku, begitu pula dengan tubuh besarnya yang beberapa kali melangkah mundur.

Aku mendengus, "kau tak akan berani membunuhku sebelum barang itu ada di tanganmu. Bukan kah begitu Tuan Gordon?"

Cukup lama wajah dingin itu terpaku di depan sana, sebelum akhirnya pandanganku terhalang oleh moncong sebuah pistol yang terpampang di depan muka.

"Ohh ... Maaf Tuan, mungkin aku salah menilaimu, tapi jika boleh memberi saran, mohon pikirkan kembali apa yang akan kau lakukan." Tanganku terangkat tepat di depan muka.

Ia hanya diam.

"Begini Tuan, aku tak mau kau salah sangka. Kau boleh saja membunuhku dengan revolver mematikan itu, bahkan menjadi sebuah kehormatan jika anak berandalan sepertiku bisa mati di tangan seorang legenda. Namun yang jadi masalah adalah," sejenak aku merekatkan bibir seraya menurunkan kedua tangan, "saat ini anak buahku sedang bersantai di depan rumah kecil yang ada di daerah Blackwall.”

“Tak hanya bersantai, kabarnya anak buahku sedang memandangi bocah laki-laki berambut cokelat yang sedang bermain dengan adik perempuannya. Jika tak salah nama mereka seperti sepasang anak kembar, Nathan dan Nathalie mungkin."

Seketika pistol itu tak lagi menghalangi pandanganku. Di depan sana, kengerian wajah dinginnya telah berganti menjadi ekspresi yang mengundang rasa iba.

"Apakah kau mengenal Nathan dan Nathalie, Tuan Gordon?"

Ia tak menjawab, tapi dalam bola mata itu tergambar dengan jelas bagaimana responnya terhadap pertanyaanku.

"Ohh ... Maaf Tuan, semoga sepenggal ceritaku ini tak memengaruhi suasana hatimu."

Bagai seekor banteng yang memandang selembar kain merah, helaan napas yang memburu itu terus keluar dari lubang hidungnya, hanya saja dengan wajah yang menampakan ketakutan.

"Yah ... Semoga saja tak terjadi apa-apa dengan mereka. Kau juga berharap begitu kan, Tuan?"

Pria berbadan besar itu memejamkan mata.

"Sebelumnya aku mohon maaf. Bukan maksud diri ini untuk menganggu pertemuan singkat kita, tapi ada sesuatu yang lebih penting untuk kukatakan padamu," ucapku sambil melirik jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangan, "tepat tengah hari nanti jika aku tak menampakan diri, aku khawatir bukan hanya Nathan dan Nathalie yang akan diawasi oleh anak buahku, tapi begitu juga dengan Maria, seorang wanita cantik yang kau temukan di Cardobar. Dan lebih parah lagi, jika sampai matahari terbenam aku belum juga menampakan diri," sejenak aku menahan kata-kata yang hendak keluar dari mulutku, "mohon maaf, aku tak bisa menjamin keselamatan mereka."

Di depan sana, linangan air mulai tampak di ujung kelopak matanya.

"Ini antara kau dan aku saja, Tuan. Pasti kau tahu sendiri kan bagaimana kelakuan orang-orang yang sudah sekian lama terombang-ambing di atas laut untuk melindungi barang selundupan? Aku berani taruhan seratus dolar, pasti orang-orang itu sudah lupa bagaimana bentuk wanita cantik." senyuman lebar merekah di atas wajahku.

"Jujur saja, Tuan. Sebenarnya yang kukhawatirkan adalah Nyonya Gordon. Aku takut anak buahku yang tak tahu diri itu tak langsung mengeksekusinya, tapi lebih dulu melakukan sesuatu yang tak pantas dilihat oleh anak-anakmu. Kau paham maksudku, kan?" tanyaku sambil mengangkat alis.

Ia terdiam. Sangat lama ia terdiam.

Aku menghela napas, "sekali lagi aku mohon maaf, Tuan. Sepertinya aku harus segera pergi untuk menghentikan semua kegilaan ini."

Pria itu mengangguk, "kau benar."

"Dorrr!!!"

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama