Dari Atas Bukit - ANCAPRA


 

Aku memandangi kepergiannya dari bukit kecil di belakang rumah. Bukit di mana biasanya kami bertemu untuk bertukar tulisan-tulisan acak, entah itu puisi, atau sekadar surat yang isinya menceritakan keseharian kami, kami juga pernah membuat cerita bersambung bersama-sama, aku menulis, ia melanjutkan, begitu seterusnya, bukit kecil ini adalah tempat kami menghabiskan banyak waktu dan berbagi tulisan meskipun kami tinggal seatap.

Kami biasanya duduk di pohon besar tepat di atas bukit kecil itu, dan samar-samar semua bayangan-bayangan itu hilang seiring kepergiannya. Ada yang hilang dari dalam diriku ketika tubuhnya semakin jauh pergi menaiki mobil mewah yang membuatnya justru tidak nyaman. Ia pergi ketika matahari mulai merambat naik, dan semua semangatku yang terus merosot turun. Rasanya paru-parumu direbut paksa dan seluruh oksigen di dalamnya diremas sampai habis, ketika melihat saudara kembarmu sendiri dibawa pergi oleh lelaki yang menikahinya, lelaki sialan yang memperkosanya, lelaki yang membuat kembarannya trauma dan menangis setiap malam, lelaki yang membuat bukit ini menjadi tempat ia berteriak-teriak dan memukuli dirinya sendiri, bukan lagi bertukar surat, bukan lagi berbagi cerita. Dan aku tahu, rasa remuk dalam dadaku adalah rasa yang sama yang dirasakan kembaranku. Dan aku lebih hancur mengetahui ia sesakit ini. Sedangkan, Bapak terlalu peduli dengan nama baiknya dibandingkan trauma putrinya sendiri. Aku memegang tali tambang terkuat yang aku punya, aku akan melihat kepergiannya berbarengan dengan kepergian nyawaku yang sudah tidak ada artinya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama